Hallyu - Korean Wave

Hallyu dalam Drama Korea

The Korean Wave (Korean: 한류; Hanja: 韓流; RR: Hallyu; MR: Hallyu, a neologism, literally meaning “wave/flow of Korea”)

Masyarakat kota besar di Indonesia sekarang tahu kimchi, ramyeon, atau mengenal istilah “oppa” maupun “ahjussi“. Sadar atau pun tidak, langsung maupun tidak langsung kita sedang dihembusi Korean Wave atau Hallyu.

Apa itu Hallyu? Klik di sini

Para Jagoan Matahari | #drakor

Nama lain: 태양의 후예 | Taeyange-ui Huye | Descendants of the Sun | Descended from the Sun  

Peringkat: 3.5 dari 5.

16 episode + 3 episode spesial | 60-90 menit per episode | 15+ Korea

Descendants of the Sun adalah drama superhero-nya Korea. Kisah para elit. Korean’s finest. Amerika punya Seal Team Six, Korea Selatan punya Tim Alpha. Pasukan elit untuk misi yang istimewa. Di pihak mempelai wanita, mereka adalah ujung tombak rumah sakit elit di Seoul. Cantik, dokter bedah, tv-personality dan berbagai bibit unggul lainnya.

Baca lanjutannya

Drakor | Virus atau Obat?

Lama baca: 2 menit

Hana… Dul… Set… ! (하나 – 둘 – 셋)

“(Sa)tu-(d)ua-(ti)ga!” atau “(Hi)ji-(d)ua-(ti)lu!). Aba-aba yang biasa kita dengar saat kita akan melakukan kegiatan bersama, berbarengan. Hana adalah satu, dul adalah dua, dan set adalah tiga.

Nampak saya harus menyerah pada keadaan. Mau tidak mau, harus diakui bahwasanya saya telah terpapar virus drama Korea. Tetiba aba-aba ini terngiang sesaat terbangun dari tidur. Ada apa ini? Makan tak enak, tidur pun tak nyenyak. Ini tulisan pertama saya tentang drama Korea beserta apa yang saya dapat beroleh dari hasil menonton drama-drama itu berbulan-bulan saat pandemi melanda.

Semua tidak akan dibahas dalam satu artikel, saya akan membahas satu per satu dari mulai judul, kebudayaan, karakter, dan mungkin sampai aktor dan aktrisnya. Slowly but sure, entah sampai kapan.


Benarkah ini virus? Klik di sini

Pernikahan Kart(D)ini

Ini tanggal 21 April, Hari Kartini. Banyak tradisi yang dilakukan memperingati hari ini. Tapi ada yang menggelitik ketika menonton televisi. Tentang pernikahan dini.

Dua orang siswa-siswi SMP di Bantaeng, Sulawesi Selatan ingin menikah. Umur si pria, hampir 16 tahun (kurang 2 bulan) dan yang perempuan belum 15 tahun. Berdasar pada UU  No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan, mereka belum cukup umur. Mereka ditolak oleh KUA setempat. Tidak puas, mereka mengajukan dispensasi ke Pengadilan Agama.

Menikah itu mulia. Usia muda (asalkan cukup umur), juga tak apa.

Alasannya.. (lanjut klik di sini)

Ulasan Film: The Post

Katharine “Kay” Graham tidak ambil pusing ketika ayahnya, Eugene Meyer, memberikan (posisi pemimpin) penerbitan surat kabar The Washington Post kepada suaminya. Menurutnya, posisi itu memang pantas dipegang oleh seorang laki-laki dilihat dari berat pekerjaannya. Namun ketika suaminya meninggal, mau tak mau Kay harus memimpin surat kabar itu.

The Post sedang stagnan. Statusnya sebagai koran lokal terancam bangkrut. The New York Times -rival abadinya- terus menggerus oplah. Padahal NYT adalah koran kota sebelah. The Post harus menjadi koran nasional, dan semua tergantung pada keputusan Kay Graham.

Politik dan Dialog.. (lanjut klik di sini)

Pre-Produced atau Live-Shoot | Cara drakor diproduksi

Kadang orang tidak mengerti bagaimana ruwetnya produksi di balik layar tontonan televisi. Mungkin karena terbiasa menonton produksi Amerika, kita menerapkan standar Amerika pula. Padahal tidak semua produksi tontonan layar kaca dibuat seperti itu.

Live-Shoot

Sekian lama hampir semua drama Korea (drakor) dibuat dengan cara The Live-Shoot System, kalau di dunia sinetron Indonesia lebih dikenal dengan istilah produksi kejar tayang (stripping). Mereka mulai syuting sebulan atau dua bulan sebelum masa tayang.

Arti Live-shoot di sini bukan seperti tayangan langsung pertandingan sepakbola, melainkan jarak waktu dari proses produksi ke waktu tayang sangatlah sempit. Seringkali satu episode baru beres disunting (edit) seminggu sebelum ditayangkan.

Produksi semacam ini sangat fleksibel dari sisi bisnis. Maka dari itu disukai para stakeholder drakor. Jalan cerita bisa diatur naik turun sesuai keinginan penonton, iklan dalam drama bisa ditambah atau dikurangi sesuai dengan transaksi bisnis. Bahkan sutradara dan penulis naskah pun bisa diganti jika dirasa kurang mendongkrak rating.

Kelemahannya, produksi live-shoot seringkali terburu-buru sehingga hasil edit tidak maksimal dan kadang kasar. Ketidakkonsistenan pada ‘rasa dan warna’ produksi pun kerap terjadi ketika sutradara atau penulis naskah diganti.

Masalah lain yang sering muncul adalah kualitas hidup para pemain dan pekerja film yang terlibat. Mereka harus berjuang dengan panjangnya jam kerja dan kurang istirahat yang mengakibatkan banyak kesalahan produksi dan masalah kesehatan, belum lagi yang menyebabkan kecelakaan.

Pre-Produced

Produksi ini sebenarnya yang ideal dan banyak dipakai. Proses produksi semua selesai sebelum tayang. Malah mungkin belum punya jam tayang. Hanya saja, di Korea, baru sebagian kecil Pre-Produced Drama yang diproduksi. Contohnya Descendants of the Sun.

Pre-Produced Drama dianggap tidak menguntungkan stasiun televisi yang membeli hak siar karena tidak bisa diubah berdasarkan keinginan penonton. Iklan produk dalam drama juga tidak bisa menyusul dimasukkan di tengah-tengah penayangan yang secara komersial kurang menarik bagi stasiun televisi.

Di Korea, ada drama yang tidak jadi tayang karena tidak mendapat jam tayang atau jam tayang yang ada diberikan pada drama yang lain yang lebih menjanjikan secara komersial.

Bagi para pekerja film, Pre-Produced Drama lebih menyehatkan karena kurang stres. Kualitas drama lebih bagus, penyuntingan lebih baik dan pengembangan cerita tersusun dengan rapih karena tidak terburu-buru. Ditambah pengambilan gambar dapat dilakukan di luar negeri dengan sinematografi yang ciamik untuk mengambil lokasi-lokasi yang indah.

Kesimpulan

Live-shoot bagi stasiun televisi masih dianggap menguntungkan secara komersial karena bisa mengikuti selera pasar. Namun jam kerja yang terburu-buru bisa mengakibatkan lingkungan kerja yang tidak sehat serta kualitas drama yang kurang bagus secara teknis.

Pre-produced membuat sutradara dan penulis naskah bisa bercerita sesuai idealisme masing-masing tanpa harus khawatir pada tanggapan penonton dan rating. Tapi mereka menghadapi resiko berhenti tayang di tengah cerita.

Pertemanan Tiada Akhir

Qori –bos besar— sedang kecanduan film seperti halnya anak-anak lain. Yang jadi kesukaannya saat ini adalah Toy Story, cerita tentang sekumpulan mainan anak-anak yang menjadi hidup ketika Andy –pemilik mainan— tidak ada. Mereka bercerita tentang pertemanan, kesetiaan, dan berbagi. Konsep sederhana dalam hubungan manusia yang memang harus ditanamkan sejak kecil.

Pertemanan.. (lanjut klik di sini)